Delapan tahun yang lalu (part 1)




   Masih pukul 11. Terlalu dini bagiku untuk tertidur. Tapi juga terlalu panas untuk melangkahkan kakiku keluar sekedar bercengkrama dan bertemu dengan teman teman, membicarakan ini dan itu yang aku pun tau akhirnya topik lelaki tak akan pernah lepas dan selalu jadi daftar utama dalam obrolan kami.
 
   Kulirik jam, lalu kusambar handphone disampingku. Mulai ku ketik kan beberapa kalimat maaf dengan beberapa alasan yang aku pikir cukup untuk meyakinkan salah seorang sahabatku. Dengan cepat dia membalas oke dan tak lupa diselipkan nya beberapa emote yang membuatku tersenyum geli.  Aku pun membalas dengan emote tertawa, yang aku tau itu tak bisa mewakili perasaanku saat ini.

    Bosan. Aku selalu membaca jika aku merasa bosan. Kulihat beberapa buku,komik,dan majalah koleksiku yang berhamburan diatas rak,kardus,bahkan lantai. "Hmm.." Malas sekali pikirku, butuh berapa jam untuk membereskan barang2 ini.
Kebiasaan menumpukkan barang menjadi sifat jelekku sejak dulu. Tak heran jika telingaku selalu ramai dengan kata kata "ocehan" tiap saat.

    Kuletakkan barang barang itu dalam satu rak penuh. Aku buang hal hal yg tak diperlukan. Aku sortir semua satu persatu. Kertas2 kosong, gambaran lama, beberapa surat yang aku tulis saat masih kecil membuat ku tertawa kala mengingatnya. Lalu seketika mata ku terpaku pada sebuah benda.
   
    Sebuah buku putih, bergambar sepasang kekasih yang sedang duduk berdua. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Mereka hanyalah sebuah gambar yang memliki makna yang artinya saling memiliki bukan?. Dengan cepat aku mengambil buku itu dan kuletakkan semua barang lain didalam rak pink tiga tingkat itu.
     
     Lalu jemari ku sibuk membolak balikan kertas yang bertuliskan kisah lama ku. Iya! aku sampai lupa kapan terakhir aku menulis. Yang aku ingat dulu aku sangat antusias dalam menulis. Buku harianku selalu menjadi tempat yang paling aku percayai. Aku bahkan lupa kenapa aku berhenti menulis? Apa karena sifat peduliku, mimpi, dan harapan ku dulu perlahan luntur dengan bertambahnya umur dan lingkungan disekitarku? Aku tau sekarang aku telah tumbuh menjadi remaja yang sibuk dengan gadget nya, sosial media dan sibuk menguploud foto foto yang menurutku "keren" untuk diperlihatkan banyak orang. Menjadi remaja yang sibuk mencari lelaki dengan tampang dan materi nya. Bahkan terlalu sibuk hingga tak ada lagi yang aku pilih.

     "Kebanyakan memilih!" Begitu kata sahabatku. "Jangan seperti menunggu banyak bus untuk merasa nyaman di kala siang, nanti kau menyesal jika hari sudah malam". Apa maksudnya?. Saat itu kuberikan saja lontaran kata kata konyol yang membuat gelak tawa lainnya.
     
      Tapi perlahan aku mengerti maksud itu. Entah sejak kapan perasaan mencintai dengan tulus itu tak ada lagi di benak ku. Tak ada lagi buku harian dalam diriku saat ini, tak ada lagi cinta yang aku punya seperti dulu. Lalu kemudian aku membaca ulang tulisan tulisan ku, betapa bahagia nya jika aku kembali pada masa itu. Masa dimana mengenal cinta pertama. Yaah bahkan mereka bilang belasan tahun lalu untuk seorang anak gadis berumur 12 tahun tak ada yang namanya cinta pertama. Mungkin itu "cinta monyet". Iya mungkin. Tapi saat masih memakai rok biru terang itu lah untuk pertama kali nya aku mengenal cinta, mengenal seberapa penting artinya sahabat, dan seberapa penting menghargai seseorang yang peduli terhadap ku. Tetesan air jatuh menyentuh jemariku. Hujan kah? Apa atap rumah ada yang bocor? Salah. Aku tertawa geli saat menyadari tetesan itu berasal dari pelupuk mataku.


                                                                                    Dari orang yang merindukanmu

*kubuka satu persatu lembaran buku usang coretan tentangmu, ku ingat kembali hal hal lucu yang membuatku mengerti betapa pentingnya perbedaan mencintai dan perasaan untuk memiliki*


(Bersambung)...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fantasi

Sepucuk surat untuk mu

Maret 2018