Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

Delapan tahun berlalu

     Delapan tahun berlalu. Seperti angin, tak terasa segala nya berlalu begitu cepat. Kini, kita sama sama beranjak dewasa. Percakapan sederhana, status dan semua sosmed mu ada dalam daftar pribadiku. Asik ya semua serba modern? Kita tak perlu lagi surat menyurat seperti 6 tahun yang lalu kan? Sebelum kelulusan sekolah kita tepatnya. Tapi sayang, kini cerita nya tak lagi sama. Aku ingat tepatnya hari sabtu kelulusan sekolah kita. Kamu memakai baju putih,rambut cepak dengan dipenuhi berbagai macam warna pilok dari ujung rambut baju sampai celana biru terangmu itu. Ahh saat itu benar benar lucu. Tapi.. dadaku benar benar teriris.       Dua hari sebelum kelulusan kita, semua sudah sibuk mencoret coret dinding, baju, bahkan meja dengan spidol, tipe-x dan pena. Konyol kan tingkah kita? Itulah betapa aku senang masa masa saat aku masih memakai rok biru itu. Tak lupa saat itu kita bergantian bertukar tanda tangan di baju masing masing, aku senang! Bahkan aku ha...

Delapan tahun yang lalu(part 2)

    Aku begitu merindukan saat perasaan polos itu masih melekat dalam hatiku. Perasaan mencintai seseorang yg tak pernah diukur dari materi, asal usul keluarganya , ataupun seberapa mampu ia mengajak berjalan mengunjungi tempat tempat mahal dan mewah yang membuat perasaan mencair jika masuk kedalamnya. Tidak. Saat itu aku tak pernah berfikir begitu. Aku hanya tau bahwa aku mencintainya selama 3 tahun sebelum akhirnya kedewasaan memisahkan kami. Saat itu aku tak perlu status ataupun berbalasan pesan singkat dengannya. Aku hanya cukup datang tiap hari kesekolah dengan harapan bertemu dengannya walau hanya saling berpapasan. Aku juga bahkan ingat dulu kita pernah mencuri pandang hanya karna kelas kita bersebelahan. Aku pernah ingat dengan sengaja pernah membuat kita hampir bertabrakan. Aku tau saat itu kamu sedang terburu buru sambil berlarian. Tapi dengan konyolnya aku sengaja berbalik berlawanan denganmu ditempat aku selalu berdiri. Dilantai dua disudut kelas dekat tangga. Luc...

Delapan tahun yang lalu (part 1)

   Masih pukul 11. Terlalu dini bagiku untuk tertidur. Tapi juga terlalu panas untuk melangkahkan kakiku keluar sekedar bercengkrama dan bertemu dengan teman teman, membicarakan ini dan itu yang aku pun tau akhirnya topik lelaki tak akan pernah lepas dan selalu jadi daftar utama dalam obrolan kami.      Kulirik jam, lalu kusambar handphone disampingku. Mulai ku ketik kan beberapa kalimat maaf dengan beberapa alasan yang aku pikir cukup untuk meyakinkan salah seorang sahabatku. Dengan cepat dia membalas oke dan tak lupa diselipkan nya beberapa emote yang membuatku tersenyum geli.  Aku pun membalas dengan emote tertawa, yang aku tau itu tak bisa mewakili perasaanku saat ini.     Bosan. Aku selalu membaca jika aku merasa bosan. Kulihat beberapa buku,komik,dan majalah koleksiku yang berhamburan diatas rak,kardus,bahkan lantai. "Hmm.." Malas sekali pikirku, butuh berapa jam untuk membereskan barang2 ini. Kebiasaan menumpukkan barang menjadi sif...

Mencari

  Mungkin aku lelah. Tuhan pun tau aku lelah, sangat lelah... Hingga akhirnya pada detik ini aku pun tersadar. " aku butuh tempat untuk bersandar" . bukan untuk sejenak melepas kepenatan di hati, tapi aku butuh tempat untuk berlabuh dan meletakkan hatiku disana. Tapi tuhan pun tau bahwa aku sudah lelah untuk mencari hingga akhirnya aku berhenti dan tak beranjak pergi. Aku selalu bilang akan menunggu toh "Jodoh pasti bertemu" Tapi ternyata aku salah... Kebahagiaan tak akan pernah kudapatkan jika tak kukejar sungguh2. Tapi , harus dari titik mana aku memulai? Beberapa dari kalian pasti berpikir kesendirian bukanlah hal sulit. "Tetaplah menjadi berguna walau sendiri,matahari itu sendiri tapi ia tetap bersinar terang bukan?" Iya benar! Tak ada yang salah. Aku setuju dengan pendapat itu pada awalnya. Tapi bukankah manusia itu makhluk ciptaan tuhan yang paling lemah ? Tak mungkin bisa dibandingkan dengan matahari yang lebih kokoh,kuat,suci dan ciptaan tuhan y...