Delapan tahun berlalu
Delapan tahun berlalu. Seperti angin, tak terasa segala nya berlalu begitu cepat. Kini, kita sama sama beranjak dewasa. Percakapan sederhana, status dan semua sosmed mu ada dalam daftar pribadiku. Asik ya semua serba modern? Kita tak perlu lagi surat menyurat seperti 6 tahun yang lalu kan? Sebelum kelulusan sekolah kita tepatnya. Tapi sayang, kini cerita nya tak lagi sama. Aku ingat tepatnya hari sabtu kelulusan sekolah kita. Kamu memakai baju putih,rambut cepak dengan dipenuhi berbagai macam warna pilok dari ujung rambut baju sampai celana biru terangmu itu. Ahh saat itu benar benar lucu. Tapi.. dadaku benar benar teriris.
Dua hari sebelum kelulusan kita, semua sudah sibuk mencoret coret dinding, baju, bahkan meja dengan spidol, tipe-x dan pena. Konyol kan tingkah kita? Itulah betapa aku senang masa masa saat aku masih memakai rok biru itu. Tak lupa saat itu kita bergantian bertukar tanda tangan di baju masing masing, aku senang! Bahkan aku hampir menangis sangking senangnya. Berlebihan? Mungkin menurut kalian saat itu adalah hal yang "biasa saja" tapi tidak bagi wanita yang memendam perasaan nya selama 3 tahun.
Oh aku lupa, sebelumnya karena terlalu asik mengingatmu aku sampai melupakan dia. Dia yg sedari tadi menungguku dibawah dengan spidol hitam ditangannya. Aku tersenyum, lalu dia membalasnya. Nafasnya terengah, mengapa?tanyaku. Dengan santainya dia bercerita bahwa habis berlari cepat kerumah dan kembali sekolah hanya untuk mengambil sebuah spidol. Dan dengan geli nya dia tertawa spidol itu khusus untuk ku menggoreskan sedikit tanda tangan dibaju nya. Sungguh! Hatiku tertegun saat itu. Aku mencintainya, tapi aku masih mencintai orang lain. Padahal itu adalah hari terakhir ku tinggal di kota yang amat sangat aku cintai. Tapi, lagi lagi aku hanya mementingkan ego besarku!
Aku tau betapa sedih perasaannya saat kami harus melakukan hubungan jarak jauh atau yang sekarang lebih keren disapa "LDR", tapi lagi lagi aku mengabaikannya. "Pulanglah!" sahutku. Dia tak banyak berkata, dia diam , menurut, lalu pergi. Padahal aku tau dia mengerti bahwa aku ingin melihat "cinta pertamaku" itu lebih lama lagi untuk terakhir kalinya.
Detik detik berlalu begitu cepat. Perpisahan pun terus berlanjut. Yang aku ingat, tepat dibawah pohon besar itu.. aku dan sahabatku menangis mengingat bahwa esok tak akan ada lagi hari hari seperti ini dan aku sudah ada di kota yang berbeda, yang jaraknya jauh berkilo kilo meter dari kota asalku. Sebenarnya ini bukan sebuah drama ataupun novel khayalan, tapi begitu sedih membayangkan bahwa ini kenyataan. Aku bahkan belum bercerita tentang sahabatku bukan? Mereka akan menjadi satu halaman penuh dalam cerita ku nanti. Mereka adalah satu satu nya sahabat yang begitu berharga dalam hidupku. Aku ingat terakhir kali kami pulang bersama memakai seragam yang sama, saat itu pun hujan rintik turun.
Lambaian tangan mereka pun perlahan menjauh dari mataku. Sugguh,tak ada kata kata yg bisa mewakili perasaan ku kala itu. Aku menangis, sedih, aku tak pernah ingin berpisah dalam keadaan seperti ini!. Lalu kemudian dia datang. Dengan sebuah bunga cantik dengan kalung berlambang hati, dia memberikannya kepadaku. Tepat sebelum aku melangkah pergi. aku tak membayangkan itu terakhir kalinya aku bertemu dengan nya sebagai sepasang "kekasih".
Beberapa bulan berlalu, tempat tinggal dan suasana yang baru kembali membuatku terbuai dan kembali mendapatkan cinta yg lain, yang akhirnya pun kandas ditengah jalan. Apa kabar pacar pertamaku? Dia sudah bahagia! Dia sudah menemukan seseorang yang lebih mencintainya dibandingkan aku. Apakah aku menyesal? Aku sangat menyesal tapi aku bahagia. Aku bahagia untuknya. Kini, sesekali kita bertemu dengan keadaan baik baik saja, tak ada dendam,dan tak ada risih diantara kita. Bagaimana dengan cinta pertamaku? Kalian tak akan menyangka setahun setelah aku pindah ke kota ini, cintaku terbalas! AHHH AKU BAHAGIA!!! Yaah itulah awalnya. Sampai 7 hari setelahnya dia malah berbalik menyakitiku. 3 tahun aku mencintainya namun hanya dengan 7 hari dengan sempurna nya dia sukses menjatuhkan ku! Karma. Itu karma atas kebodohanku. Seharusnya dulu aku lebih sadar betapa pentingnya menghargai seseorang yang siap berdiri disampingku. Seseorang yang benar benar siap membantuku berdiri dikala jatuh.
Tapi itu hanyalah sebuah goresan luka lama. Luka yang sampai saat ini pun masih ku ingat. penyesalan yang tiada hentinya. Tapi aku bahagia, setidaknya dulu aku mempunyai sebuah cerita indah yang tidak akan pernah aku temui lagi di waktu ini.
Dua hari sebelum kelulusan kita, semua sudah sibuk mencoret coret dinding, baju, bahkan meja dengan spidol, tipe-x dan pena. Konyol kan tingkah kita? Itulah betapa aku senang masa masa saat aku masih memakai rok biru itu. Tak lupa saat itu kita bergantian bertukar tanda tangan di baju masing masing, aku senang! Bahkan aku hampir menangis sangking senangnya. Berlebihan? Mungkin menurut kalian saat itu adalah hal yang "biasa saja" tapi tidak bagi wanita yang memendam perasaan nya selama 3 tahun.
Oh aku lupa, sebelumnya karena terlalu asik mengingatmu aku sampai melupakan dia. Dia yg sedari tadi menungguku dibawah dengan spidol hitam ditangannya. Aku tersenyum, lalu dia membalasnya. Nafasnya terengah, mengapa?tanyaku. Dengan santainya dia bercerita bahwa habis berlari cepat kerumah dan kembali sekolah hanya untuk mengambil sebuah spidol. Dan dengan geli nya dia tertawa spidol itu khusus untuk ku menggoreskan sedikit tanda tangan dibaju nya. Sungguh! Hatiku tertegun saat itu. Aku mencintainya, tapi aku masih mencintai orang lain. Padahal itu adalah hari terakhir ku tinggal di kota yang amat sangat aku cintai. Tapi, lagi lagi aku hanya mementingkan ego besarku!
Aku tau betapa sedih perasaannya saat kami harus melakukan hubungan jarak jauh atau yang sekarang lebih keren disapa "LDR", tapi lagi lagi aku mengabaikannya. "Pulanglah!" sahutku. Dia tak banyak berkata, dia diam , menurut, lalu pergi. Padahal aku tau dia mengerti bahwa aku ingin melihat "cinta pertamaku" itu lebih lama lagi untuk terakhir kalinya.
Detik detik berlalu begitu cepat. Perpisahan pun terus berlanjut. Yang aku ingat, tepat dibawah pohon besar itu.. aku dan sahabatku menangis mengingat bahwa esok tak akan ada lagi hari hari seperti ini dan aku sudah ada di kota yang berbeda, yang jaraknya jauh berkilo kilo meter dari kota asalku. Sebenarnya ini bukan sebuah drama ataupun novel khayalan, tapi begitu sedih membayangkan bahwa ini kenyataan. Aku bahkan belum bercerita tentang sahabatku bukan? Mereka akan menjadi satu halaman penuh dalam cerita ku nanti. Mereka adalah satu satu nya sahabat yang begitu berharga dalam hidupku. Aku ingat terakhir kali kami pulang bersama memakai seragam yang sama, saat itu pun hujan rintik turun.
Lambaian tangan mereka pun perlahan menjauh dari mataku. Sugguh,tak ada kata kata yg bisa mewakili perasaan ku kala itu. Aku menangis, sedih, aku tak pernah ingin berpisah dalam keadaan seperti ini!. Lalu kemudian dia datang. Dengan sebuah bunga cantik dengan kalung berlambang hati, dia memberikannya kepadaku. Tepat sebelum aku melangkah pergi. aku tak membayangkan itu terakhir kalinya aku bertemu dengan nya sebagai sepasang "kekasih".
Beberapa bulan berlalu, tempat tinggal dan suasana yang baru kembali membuatku terbuai dan kembali mendapatkan cinta yg lain, yang akhirnya pun kandas ditengah jalan. Apa kabar pacar pertamaku? Dia sudah bahagia! Dia sudah menemukan seseorang yang lebih mencintainya dibandingkan aku. Apakah aku menyesal? Aku sangat menyesal tapi aku bahagia. Aku bahagia untuknya. Kini, sesekali kita bertemu dengan keadaan baik baik saja, tak ada dendam,dan tak ada risih diantara kita. Bagaimana dengan cinta pertamaku? Kalian tak akan menyangka setahun setelah aku pindah ke kota ini, cintaku terbalas! AHHH AKU BAHAGIA!!! Yaah itulah awalnya. Sampai 7 hari setelahnya dia malah berbalik menyakitiku. 3 tahun aku mencintainya namun hanya dengan 7 hari dengan sempurna nya dia sukses menjatuhkan ku! Karma. Itu karma atas kebodohanku. Seharusnya dulu aku lebih sadar betapa pentingnya menghargai seseorang yang siap berdiri disampingku. Seseorang yang benar benar siap membantuku berdiri dikala jatuh.
Tapi itu hanyalah sebuah goresan luka lama. Luka yang sampai saat ini pun masih ku ingat. penyesalan yang tiada hentinya. Tapi aku bahagia, setidaknya dulu aku mempunyai sebuah cerita indah yang tidak akan pernah aku temui lagi di waktu ini.
Komentar
Posting Komentar