Maret 2018
Halo. Entah kalian mengenalku atau tidak, selamat membaca tulisanku!
Banyak yang akan aku tuliskan disini.
Aku harap kalian meluangkan beberapa menit untuk membacanya.
Tapi tunggu. Ini bukan pengakuan sengaja.
Aku hanya ingin bercerita.
Sebaiknya dari mana aku mulai?
Usiaku saat ini menginjak 23 tahun. And i’m still being single.
Banyak cerita yang aku lalui semenjak 6 tahun yang lalu.
Ada yang tidak percaya dan tidak sedikit orang orang menilaiku dengan sepihak.
Dan aku tegaskan lagi. Aku bukanlah wanita yang selalu ingin semuanya sempurna.
Lagipula, siapa aku?
Kadang aku hanya ingin tertawa jika ada yang menilaiku serendah itu.
Mulut manusia memang senjata paling tajam untuk menimbulkan luka yang dinamakan ingatan.
Aku pernah mencintai seseorang yang sangat amat biasa. Akupun pernah merasakan layaknya dilan dan milea berduaan diatas sepeda motor dengan kenangan yang masih melekat dipikiranku.
Tapi itu cerita lalu. Aku tidak pernah merasakan gagal move on terhadap seseorang yang pernah menjadi kekasihku.
Namun lucunya, aku selalu merasakan sakit disaat aku mencintai seseorang dalam diam.
Atau saat aku berharap lebih namun dia layaknya sebuah pelangi yang hanya singgah sebentar lalu pergi.
Itu alasan mengapa aku selalu sendiri hingga saat ini.
Aku akui. Pribadiku tidak seperti wanita pada umumnya yang pandai berbicara dan pandai menjadi orang yang menyenangkan didepan pria yang ia sukai.
Sifatku menjengkelkan! Aku akan menjadi seorang yang sangat amat dingin didepan laki laki yang aku cintai.
Sifatku membosankan. “Mana bisa aku memulai percakapan dengan dia?.”pikirku.
Ah,ataukah aku ucap selamat pagi? Ah ataukan aku menghubunginya lagi?”. Berulang kali kalimat itu ada dipikiranku. Yang endingnya sudah pasti kalian bisa menebak, itu tidak pernah aku lakukan.
Lalu yang terjadi adalah mereka pergi. Entahlah. Apa mereka tidak sungguh-sungguh?. Padahal, aku hanya ingin menemukan seseorang yang bisa aku cintai dan ia pun mencintaiku.
Tapi yang kudapat, hanyalah seseorang yang singgah sesaat kemudian pergi. Mereka yang memberi harapan lalu tiba” menghilang. Mungkin salahku tidak menahannya. Atau justru mereka pergi karna salah mengartikan sikap diamku?.
Aku bukan tipe wanita yang mudah diajak berkencan saat berkenalan.
Ketahuilah. Jika kalian ada yang membaca ini dan merasa pernah berjalan bersamaku. Kamu adalah salah satu dari dua orang itu.
Karna memang hanya dua pria yang berhasil membuatku berkata “iya”. Sungguh. Ini bukan karangan. Masa remajaku sungguh membosankan. Aku lebih sering berkata tidak dan itu membuat sahabatku jengkel.
Sebetulnya aku adalah tipe yang amat setia bukan? Aku bahkan menggelikan memuji diriku sendiri disini. Tapi tidak ada yang menyadari betapa beruntungnya mereka jika memiliki aku. Tapi tak mengapa. Perasaan ini akan pudar seiring berjalannya waktu.
Aku cukup lama bertahan dalam fase ini.
Aku pikir, akan sangat amat menyenangkan jika menemukan seseorang yang bisa membawaku lari dari kesunyian ini.
Adakah?
Maret,2018
Banyak yang akan aku tuliskan disini.
Aku harap kalian meluangkan beberapa menit untuk membacanya.
Tapi tunggu. Ini bukan pengakuan sengaja.
Aku hanya ingin bercerita.
Sebaiknya dari mana aku mulai?
Usiaku saat ini menginjak 23 tahun. And i’m still being single.
Banyak cerita yang aku lalui semenjak 6 tahun yang lalu.
Ada yang tidak percaya dan tidak sedikit orang orang menilaiku dengan sepihak.
Dan aku tegaskan lagi. Aku bukanlah wanita yang selalu ingin semuanya sempurna.
Lagipula, siapa aku?
Kadang aku hanya ingin tertawa jika ada yang menilaiku serendah itu.
Mulut manusia memang senjata paling tajam untuk menimbulkan luka yang dinamakan ingatan.
Aku pernah mencintai seseorang yang sangat amat biasa. Akupun pernah merasakan layaknya dilan dan milea berduaan diatas sepeda motor dengan kenangan yang masih melekat dipikiranku.
Tapi itu cerita lalu. Aku tidak pernah merasakan gagal move on terhadap seseorang yang pernah menjadi kekasihku.
Namun lucunya, aku selalu merasakan sakit disaat aku mencintai seseorang dalam diam.
Atau saat aku berharap lebih namun dia layaknya sebuah pelangi yang hanya singgah sebentar lalu pergi.
Itu alasan mengapa aku selalu sendiri hingga saat ini.
Aku akui. Pribadiku tidak seperti wanita pada umumnya yang pandai berbicara dan pandai menjadi orang yang menyenangkan didepan pria yang ia sukai.
Sifatku menjengkelkan! Aku akan menjadi seorang yang sangat amat dingin didepan laki laki yang aku cintai.
Sifatku membosankan. “Mana bisa aku memulai percakapan dengan dia?.”pikirku.
Ah,ataukah aku ucap selamat pagi? Ah ataukan aku menghubunginya lagi?”. Berulang kali kalimat itu ada dipikiranku. Yang endingnya sudah pasti kalian bisa menebak, itu tidak pernah aku lakukan.
Lalu yang terjadi adalah mereka pergi. Entahlah. Apa mereka tidak sungguh-sungguh?. Padahal, aku hanya ingin menemukan seseorang yang bisa aku cintai dan ia pun mencintaiku.
Tapi yang kudapat, hanyalah seseorang yang singgah sesaat kemudian pergi. Mereka yang memberi harapan lalu tiba” menghilang. Mungkin salahku tidak menahannya. Atau justru mereka pergi karna salah mengartikan sikap diamku?.
Aku bukan tipe wanita yang mudah diajak berkencan saat berkenalan.
Ketahuilah. Jika kalian ada yang membaca ini dan merasa pernah berjalan bersamaku. Kamu adalah salah satu dari dua orang itu.
Karna memang hanya dua pria yang berhasil membuatku berkata “iya”. Sungguh. Ini bukan karangan. Masa remajaku sungguh membosankan. Aku lebih sering berkata tidak dan itu membuat sahabatku jengkel.
Sebetulnya aku adalah tipe yang amat setia bukan? Aku bahkan menggelikan memuji diriku sendiri disini. Tapi tidak ada yang menyadari betapa beruntungnya mereka jika memiliki aku. Tapi tak mengapa. Perasaan ini akan pudar seiring berjalannya waktu.
Aku cukup lama bertahan dalam fase ini.
Aku pikir, akan sangat amat menyenangkan jika menemukan seseorang yang bisa membawaku lari dari kesunyian ini.
Adakah?
Maret,2018
Komentar
Posting Komentar