Untuk Semua yang Pernah Singgah
Aku menulis ini ketika aku mulai mengerti..
Pagi ini semua lagu yang kudengar tidak lagi sama. Ternyata, selama ini aku hanya mendengarkan lagu. Namun Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku benar-benar merasakannya..
Akhir akhir ini otak ku penuh dengan memori yang aku lalui di masa lalu. Aku bersyukur di beri kesempatan mengingat itu semua di usia ini. Aku selalu merasa masa muda ku tidak terlalu asik dan tidak sebahagia orang lain. Kupikir karna orang2 tidak mengerti niat baikku, ternyata permasalahan nya ada di diriku.
Aku terlalu menutup diri dan tidak pandai mengekspresi kan apa yang ku mau.
Dulu aku dikelilingi orang2 yang sepeduli dan sesabar itu. Mereka yang selalu ada disaat aku ingin pulang.. Berkumpul, menyempatkan waktu, membuat kenangan.. sungguh aku bahkan selama ini tidak ada waktu untuk mengingatnya.
Bahkan sampai hari ini, aku belum pernah meminta maaf dengan layak kepada seseorang yang pernah aku sakiti.
Namun, dengan hati yang begitu lapang, ia menerimaku kembali sebagai teman, tanpa benci, tanpa dendam, dan tanpa sedikit pun keinginan untuk kembali seperti dulu.
Ironisnya, sekali lagi aku terlalu pandai menyembunyikan perasaanku. Mungkin baginya, aku akan selalu menjadi cinta putih biru nya yang jahat.
Meski begitu, dulu aku selalu berharap ia menemukan kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan yang lebih pantas ia miliki, dan aku bersyukur dia sudah menemukan rumahnya.
Untuk seseorang yang kini telah tiada,
Aku memaafkan semua yang pernah terjadi. Tak ada lagi amarah yang ingin kusimpan. Yang tersisa hanyalah doa, semoga di tempatmu kini, kau benar-benar telah menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang tak lagi bisa diberikan dunia.
Untuk seseorang yang pernah menjadi sahabat sekaligus rumah di masa mudaku,
Terima kasih telah membuatku merasakan indahnya jatuh cinta dengan cara yang sederhana. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, tatapan mata yang diam-diam saling mencari, lirikan lewat kaca spion, senyum yang tak pernah diucapkan dengan kata-kata kini berubah menjadi kenangan yang diam diam membuatku tersenyum ketika mengingatnya.
Aneh, pandanganmu kepadaku seolah tak pernah berubah. Bahkan ketika aku telah menjadi seseorang yang jauh berbeda.
Aku hanya berharap, kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri.
Untuk sahabatku yang beberapa hari ini terus terlintas di pikiranku,
Apa kabar?
Maaf. Dulu aku bahkan tidak pernah benar-benar berusaha mengerti. Aku tidak pernah bertanya mengapa kau memilih pergi. Yang keluar dari mulutku hanyalah umpatan, kekecewaan, dan prasangka.
Baru setelah waktu mengajarkanku banyak hal, aku sadar… mungkin saat itu aku adalah orang yang paling menyakitkan.
Aku menganggap banyak orang sebagai sahabat, tetapi nyatanya aku tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Aku jarang menyapa, jarang bertanya kabar, dan terlalu sibuk dengan duniaku sendiri hingga lupa bahwa setiap orang sedang berjuang dengan kisahnya masing-masing.
Kini aku mengerti, menjadi sahabat bukan hanya tentang hadir ketika tertawa, tetapi juga tentang mau mendengarkan tanpa menghakimi, memahami tanpa diminta, dan tetap tinggal tanpa menuntut penjelasan.
Untuk semua orang yang pernah hadir dalam hidupku, terima kasih. Kalian mengajarkanku bahwa menjadi manusia yang baik ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar menjadi orang yang benar.
Dan jika suatu hari kita dipertemukan lagi, semoga aku telah menjadi versi diriku yang lebih lembut. Seseorang yang tidak lagi mudah melukai orang lain hanya karena terlalu sibuk menjaga egonya sendiri
Dan terakhir… untuk satu-satunya orang yang masih memilih tinggal di sisiku hingga hari ini, dan semoga hingga nanti.
Terima kasih telah menemukanku di saat aku bahkan belum selesai menemukan diriku sendiri. Terima kasih telah mencintaiku dengan sabar, bahkan ketika aku tidak selalu mudah untuk dicintai.
Kau datang bukan untuk menghapus masa laluku, tetapi perlahan mengajarkanku bahwa hidup tidak harus terus tinggal di sana. Kau meringankan beban yang selama ini kupikul sendirian, menghangatkan bagian-bagian dalam diriku yang sempat lama mati rasa.
Maaf karena aku terlambat menyadari betapa besar kasih yang kau berikan. Maaf jika ada hari-hari ketika aku lebih sibuk berdamai dengan luka lama daripada mensyukuri hadirnya dirimu.
Hari ini aku tidak ingin lagi hidup dengan terus menoleh ke belakang. Aku ingin berjalan bersamamu, menciptakan kenangan baru, mengganti air mata dengan tawa, dan menjadikan cinta ini sebagai tempat pulang yang paling tenang.
Terima kasih telah menjadi alasan bagiku untuk percaya bahwa setelah begitu banyak kehilangan, Tuhan masih menyiapkan seseorang untuk mengajarkanku arti dicintai dengan tulus.
Mari kita melangkah ke masa depan. Bukan untuk menghapus masa lalu, tetapi untuk membuktikan bahwa segala luka akhirnya membawa kita ke tempat yang seharusnya.
Dan jika suatu hari nanti aku ditanya seperti apa rupa rumah itu, aku akan menjawab, “Rumah adalah seseorang yang membuatku tidak lagi ingin mencari ke mana-mana.” ❤️
Komentar
Posting Komentar